Ilustrasi bisnis gagal karena coronavirus

Bukan kali pertama coronavirus melumpuhkan ekonomi dunia. Pada 2003, virus yang menginfeksi saluran pernapasan ini menyebabkan wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). 9 tahun kemudian, coronavirus menyebabkan MERS atau dikenal juga sindrom pernapasan Timur Tengah karena kasus pertama terjadi di Arab Saudi.

Wabah COVID-19 saat ini sama dengan SARS yang terjadi kali pertama di Tiongkok. Saat SARS mewabah, ekonomi Tiongkok turun hingga 9 persen pada kuartal kedua 2003 (Q2 2003). Kita belum bisa memberikan angka pasti penurunan ekonomi Tiongkok di tengah wabah COVID-19.

Melihat sektor ekspor yang paling terdampak pandemi global ini, ekonomi Tiongkok jatuh hingga 17,2 persen. Berdasarkan analisis sensitivitas, penurunan 1 persen ekonomi Tiongkok berdampak pada penurunan 0,1–0,3 persen ekonomi Indonesia.

Analisis sensitivitas merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui akibat dari perubahan parameter-parameter produksi terhadap perubahan kinerja sistem produksi dalam menghasilkan keuntungan.

Ambruknya Bisnis Konvensional karena Coronavirus

Masih terlalu awal untuk menghitung penurunan ekonomi, tetapi kita bisa melihat dari situasi di sekitar. Seperti menurunnya permintaan layanan ojek online. Asosiasi pengemudi ojek online menyebutkan permintaan layanan turun 50 persen akibat pandemi COVID-19.

Ini juga akibat imbas dari kebijakan pemerintah dan pengusaha yang menerapkan sistem belajar dan kerja dari rumah (work from home). Dengan kata lain, efek dominan mulai dirasakan bisnis konvensional. 

“Kebijakan lockdown bisa berdampak pada penurunan ekonomi hingga 0,5 persen jika diterapkan selama 2 minggu. Sedangkan, penurunan 1 persen akan terjadi jika diterapkan hingga 1 bulan.” —Centre for Strategic and International Studies

Hal berbeda justru dirasakan oleh orang-orang yang mayoritas aktivitas bisnisnya dilakukan secara online. Misal, e-commerce yang kita tahu justru terdongkrak dengan adanya sistem work from home.

Bisnis Forex Mendukung Gerakan #DiRumahAja

Begitu juga dengan bisnis forex yang memang didesain untuk cari uang dari mana saja. Dengan smartphone dan koneksi internet pun, kita bisa menjalankan bisnis ini. Keunggulan bisnis forex yang tidak terpengaruh oleh bencana apa pun, yaitu kita bisa untung saat harga naik maupun turun.

Baca:  Memahami Peta Permainan Market Saat Ini (1)

Instrumen yang diperdagangkan pun banyak seperti mata uang, emas, minyak, dan komoditas lainnya. Selain itu, data harga pun tersedia hingga puluhan tahun ke belakang. Jadi, kita bisa melakukan uji coba untuk melihat keberhasilan strategi yang akan digunakan.

Traders Family membuat program untuk mendukung gerakan #DiRumahAja dan mendorong pertumbuhan bisnis forex. Melalui program ini, kami akan mencontohkan standar trading yang digunakan Traders Family sekaligus memberikan modal dengan total Rp5 miliar bagi 500 trader terpilih.

Apply Sekarang

The post Bisnis Gagal Karena Coronavirus, Apa Salah Pilih Bisnis? appeared first on Traders Family.